Alam ternyata sudah lebih dulu mengajarkan seni multitasking

Sekitar 57% generasi Z memiliki pekerjaan sampingan atau side hustle. Ini adalah data dari survei Harris Poll Amerika Serikat yang memotret bagaimana anak muda zaman sekarang gencar mencari stabilitas dan keamanan finansial lewat lebih dari satu pekerjaan. Kondisi ekonomi yang menantang yang memicu frasa "in this economy" adalah salah satu penyebab utamanya.

Tapi tahu gak? Fenomena double job ini ternyata bukan cuma milik manusia urban. Jika kita melipir sejenak dari layar gawai dan mengamati alam sekitar, ada tanaman-tanaman lokal di sekitar kita yang sudah lama melakoni gaya hidup multitasking ini.

Mangrove


Tanggal 25 September lalu, saya dan kawan-kawan Eco Blogger Squad mengikuti webinar yang diisi oleh Daniel Kbarek dari The Asian Foundation (TAF) dan Steve Wawiyae dari Perkumpulan Kawan Pesisir Raja Ampat (PKPRA). Mereka membawa cerita langsung dari lapangan tentang pentingnya peran mangrove serta perjuangan perempuan lokal di ufuk timur dalam melestarikan ekosistem pesisir.

Dari cerita-cerita mereka, saya jadi melihat mangrove dari sudut pandang yang berbeda. Selama ini, kita mungkin lebih sering mengenalnya sebagai benteng alami yang melindungi kawasan pesisir dan habitat bagi berbagai biota. Padahal, perannya tidak berhenti sampai di situ.

Kayu mangrove dimanfaatkan sebagai bahan bangunan. Misalnya, untuk membangun penginapan di area sekitar. Buah mangrove juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan lokal kaya gizi dan bernilai jual tinggi. Lalu, ada jenis buah mangrove yang beracun jika dikonsumsi secara mentah, tetapi berhasil disulap menjadi sumber pangan kaya gizi dengan teknik detoksifikasi tradisional. Pengolahan ini dilakukan oleh mama-mama lokal kampung Friwen di pesisir Raja Ampat.

Para mama lokal Friwen berkumpul mengolah mangrove menjadi pangan


Hal lain yang membuat cerita dari Friwen terasa semakin menarik bagi saya adalah peran perempuan di dalamnya. Dalam pengelolaan kawasan mangrove, para mama ikut terlibat dalam patroli hutan, pengolahan produk mangrove, kegiatan agroforestri, kerajinan tangan, hingga pengembangan usaha masyarakat. Keterlibatan perempuan bahkan disebut mencapai 80% dalam berbagai kelompok usaha dan kegiatan pengelolaan kawasan.

"Perempuan ini lebih teliti, bisa melihat apa yang tidak bisa kami (laki-laki) lihat. Mereka hebat dalam mengolah hutan," ujar Daniel Kbarek.


Kawan pesisir telah lama mempraktikkan teknik khusus untuk mengolah buah mangrove jenis lindur, membebaskannya dari getah dan zat tanin alami melalui rentetan proses perendaman serta perebusan yang teliti. Daging buah yang sudah aman dikonsumsi ini kemudian dikeringkan dan dihaluskan hingga menjadi tepung lindur. Bahan baku serbaguna berkarbohidrat tinggi tersebut sangat mudah dikreasikan menjadi aneka jajanan tradisional, kue kering, hingga mi.

Kreativitas warga pesisir juga merambah pada pemanfaatan buah pidada atau yang sering dijuluki sebagai apel mangrove. Kandungan vitamin C yang melimpah berpadu dengan cita rasa asam manis alaminya membuat buah ini sangat cocok diracik menjadi sirup segar, dodol, maupun selai. Inovasi kuliner dari pesisir ini pada akhirnya menciptakan sebuah siklus ekonomi yang sehat bagi warga lokal.


Kedaulatan mengolah alam ini diperkuat lewat praktik adat Sasi, sebuah kesepakatan adat yang mengajarkan kita tentang arti menahan diri demi memulihkan alam. 

Tradisi Sasi pada dasarnya adalah wujud nyata dari seni menahan diri dan penghargaan manusia terhadap waktu istirahat alam. Melalui kesepakatan adat ini, masyarakat pesisir menetapkan aturan tegas untuk tidak mengambil hasil laut atau hutan tertentu dalam kurun waktu beberapa bulan hingga beberapa tahun.

Selama periode jeda tersebut, ekosistem dibiarkan sepenuhnya tenang agar bisa bernapas, memperbaiki kerusakan, dan memberikan kesempatan bagi berbagai flora maupun fauna untuk berkembang biak secara maksimal tanpa gangguan tangan manusia.

Kesabaran warga dalam mematuhi masa larangan tersebut selalu berujung manis saat ritual pembukaan Sasi tiba. Berkat waktu pemulihan yang cukup, hasil panen yang didapat masyarakat akan jauh lebih melimpah, ukurannya lebih besar, dan kualitasnya sangat baik untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.

Kearifan lokal ini menyiratkan sebuah pesan yang sangat relevan bagi kehidupan modern: satu-satunya cara untuk menjamin kelestarian lingkungan hingga generasi anak cucu kita kelak adalah dengan sesekali mundur selangkah, menekan ego, dan membiarkan bumi menyembuhkan dirinya sendiri.

Dari sini saya kemudian berpikir, kalau mangrove punya “kerja sampingan”, apakah tanaman lain juga begitu? mungkin selama ini kita terlalu terbiasa melihat tanaman berdasarkan satu fungsi saja. Mangrove adalah “penjaga pantai”. Kelapa adalah “bahan masakan”. Bambu adalah “bahan bangunan”. Padahal, bisa jadi setiap tanaman menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada label yang selama ini kita berikan.

Tebu


Beralih dari kawasan pesisir, daratan kita juga menyimpan kekayaan botani yang memiliki peran ganda bagi kehidupan, salah satunya adalah tebu. Dulu, saya pikir tanaman berbatang manis ini hanya sekadar bahan baku utama pembuatan gula. Padahal, ketika dilihat lebih dekat, tebu punya peran lain yang tidak kalah menarik, mulai dari sumber pangan hingga bahan baku berbagai produk turunan.

Secara ekonomi, batang tebu merupakan roda penggerak kemandirian pangan lokal. Perasan airnya menghasilkan sari manis alami yang menyegarkan dan bisa langsung dinikmati sebagai minuman tradisional pelepas dahaga. Dalam skala yang lebih besar, pengolahan sari tebu menjadi gula merah, gula batu, maupun gula kristal membuka lapangan pekerjaan yang masif bagi para petani hingga pekerja pabrik.

Di balik deretan ladang yang hijau, rumpun tebu juga menjalankan fungsi ekologis secara diam-diam. Sistem perakarannya yang kuat dan mencengkeram tanah dengan rapat sangat efektif mencegah bahaya erosi, terutama saat musim penghujan melanda lahan miring. Jajaran tebu yang tumbuh padat mampu menahan laju aliran air permukaan, memberi waktu bagi air untuk meresap ke dalam bumi dan menjaga cadangan air tanah. Peran pelindung ini menjadikan tebu sebagai pagar alami yang merawat struktur tanah dalam jangka panjang.


Nilai guna tebu sama sekali tidak berhenti ketika sari manisnya habis diperas. Sisa batang atau ampas tebu menyimpan potensi luar biasa sebagai material ramah lingkungan yang serbaguna. Serat alami ini sangat ideal diolah kembali menjadi pakan ternak bergizi maupun kompos penyubur tanah. Di era modern, sisa perasan ini bahkan mulai bertransformasi menjadi bahan baku pembuatan kertas dan wadah kemasan makanan yang mudah terurai, sebagai solusi cerdas mengurangi ketergantungan pada plastik sekali pakai.

Singkong


Olahan singkong adalah salah satu makanan favorit saya. Ada singkong keju susu, keripik singkong, sampai sekadar singkong goreng biasa pun digemari banyak kalangan. Lalu saya kepikiran, tidak hanya umbinya, daunnya pun nikmat ketika dijadikan sayuran yang menemani nasi dan lauk.

Fungsi utama singkong memang berakar pada umbinya yang kaya akan karbohidrat kompleks sebagai penyedia energi harian. Melalui berbagai pengolahan kreatif, umbi ini dapat diolah menjadi penganan tradisional hingga tepung mocaf yang kini banyak dimanfaatkan sebagai alternatif pengganti terigu.

Dari kacamata industri dan ekonomi, singkong memiliki daya jelajah pasar yang sangat luas. Pati hasil ekstraksinya, yaitu tepung tapioka, menjadi bahan baku krusial bagi berbagai industri pangan, pembuat kertas, hingga perekat tekstil. Perkembangan teknologi kini mulai mengolah fermentasi singkong menjadi bioetanol sebagai sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan. Nilai tambah tersebut memperluas potensi pasar dan membantu mendongkrak pendapatan para petani lokal.

Secara ekologis, singkong memiliki ketangguhan istimewa dalam menghadapi tantangan iklim yang tidak menentu. Tanaman ini sanggup tumbuh subur di atas tanah yang kurang subur, minim hara, serta memiliki intensitas curah hujan yang rendah. Ketahanan alami ini menjadikan singkong sebagai pelindung lahan marginal dari ancaman erosi, sekaligus menjadi tanaman cadangan yang sangat diandalkan ketika komoditas lain mengalami kegagalan panen akibat musim kemarau panjang.


***

Tebu, mangrove, singkong, serta tanaman multitasking lainnya mengajarkan bahwa pemenuhan kebutuhan manusia selalu bisa berjalan beriringan dengan pemeliharaan lingkungan tanpa harus meninggalkan jejak kerusakan. Memaksimalkan fungsi ekologis sekaligus mengolah seluruh bagian tanaman tanpa sisa limbah adalah langkah nyata untuk memastikan kedaulatan pangan terus lestari di masa depan. Menjaga hutan artinya turut menjaga ketersediaan pangan.